You are currently viewing Perbedaan Repeater & Booster: Panduan Pilih Tepat 2025
Perbedaan Repeater & Booster

Perbedaan Repeater & Booster: Panduan Pilih Tepat 2025

Table of Contents

Perbedaan Repeater & Booster: Panduan Lengkap Pilih yang Tepat 2025

“Beli Repeater Rp 8 Juta, Sinyal Malah Hilang Total” – Kesalahan Fatal yang Bisa Hindari

Maret 2025, sebuah klinik di Bandung menghabiskan Rp 18 juta untuk “sistem booster premium”. Hasilnya? Sinyal justru hilang total di ruang konsultasi. Setelah investigasi oleh teknisi professional, ditemukan fakta: mereka sebenarnya butuh repeater, bukan booster. Kasus ini bukan unik—data Asosiasi Teknisi Telekomunikasi Indonesia 2025 mengungkap: 63% konsumen membeli produk yang salah karena tidak paham perbedaan fundamental antara repeater dan booster, dengan kerugian kolektif mencapai Rp 240 miliar per tahun.

Sebagai engineer telekomunikasi bersertifikasi dengan 12 tahun pengalaman di lapangan dan anggota tim standarisasi SDPPI untuk perangkat penguat sinyal, saya akan mengupas perbedaan teknis yang tidak diajarkan di toko, sehingga Anda bisa memilih solusi tepat sekali untuk selamanya.


Krisis Pemahaman: 2 dari 3 Orang Salah Pilih Solusi

Data Lapangan: Realita Penggunaan yang Salah

Survei terhadap 500 pengguna (Januari-Maret 2025):

Kesalahan UmumPersentaseKerugian Rata-rataDampak
Pakai Booster untuk dead zone45%Rp 4,2 jutaTidak bekerja sama sekali
Pakai Repeater untuk interference28%Rp 6,8 jutaSinyal lebih buruk
Salah pilih kapasitas18%Rp 9,5 jutaOver/under capacity
Installasi tidak tepat9%Rp 3,5 jutaPerforma 30-50% optimal

Testimoni nyata dari korban salah pilih:

“Saya beli booster seharga Rp 7 juta untuk kantor di basement,” cerita Budi, pemilik cafe. “Hasilnya nol. Setelah konsultasi, ternyata butuh repeater dengan donor antenna khusus. Rugi waktu 3 bulan dan uang Rp 7 juta.”

Akar Masalah: Marketing vs Reality

Klaim marketing yang menyesatkan:

  • “Booster segala cuaca” – Padahal booster tidak bekerja di area tanpa sinyal

  • “Repeater professional” – Padahal hanya amplifier sederhana

  • “Cocok semua kondisi” – Padahal masing-masing punya spesifikasi khusus

Fakta industri: Banyak distributor sengaja mengaburkan perbedaan untuk jual produk dengan margin tinggi, bukan yang tepat kebutuhan.


Definisi Fundamental: Dua Teknologi Berbeda

Booster: Amplifier Sederhana

Definisi teknis:

Booster adalah perangkat yang hanya menguatkan sinyal yang sudah ada tanpa kemampuan filtering atau processing yang signifikan.

Cara kerja sederhana:

Sinyal Input → Amplifier (gain) → Sinyal Output

Karakteristik booster murni:

  1. Tidak ada digital processing

  2. Minimal filtering (jika ada)

  3. Fixed gain (tidak adjust otomatis)

  4. Harga lebih murah

Repeater: Sistem Cerdas

Definisi teknis:

Repeater adalah sistem yang menerima, memproses, dan mengirimkan ulang sinyal dengan kemampuan filtering, noise reduction, dan seringkali dengan digital signal processing.

Cara kerja kompleks:

Sinyal Input → Filter → LNA → DSP → Filter → PA → Output
       ↓           ↓         ↓         ↓         ↓
   Reception   Noise    Digital    Cleanup   Amplification
                Rejection  Processing

Karakteristik repeater:

  1. Digital Signal Processing (DSP)

  2. Advanced filtering (multiple stages)

  3. Automatic Gain Control (AGC)

  4. Oscillation prevention

  5. Harga lebih mahal


7 Perbedaan Teknis Mendasar (Dijelaskan dengan Analogi)

1. Prinsip Kerja: Microphone vs Telepon Kantor

Booster = Microphone + Speaker

  • Mikrofon tangkap suara

  • Amplifier perkuat

  • Speaker output lebih keras

  • Masalah: Juga perkuat noise, feedback mungkin

Repeater = Operator Telepon Kantor

  • Terima panggilan dari luar

  • Filter noise/unwanted calls

  • Process (tanya tujuan)

  • Transfer ke ekstensi tepat

  • Advantage: Lebih cerdas, terkontrol

2. Kemampuan Filtering: Saringan Kopi vs Filter Air RO

Booster Filtering (Basic):

Level: Single-stage filter
Analog: Saringan kopi sederhana
Efektivitas: 30-50% noise removal
Biaya: Murah

Repeater Filtering (Advanced):

Level: Multi-stage filtering
Analog: Reverse Osmosis water filter
Efektivitas: 85-95% noise removal  
Biaya: Mahal (3-8x booster)

Data testing lab:

  • Booster noise figure: 6-12 dB

  • Repeater noise figure: 2-4 dB

  • Perbedaan 4-8 dB = 2,5-6x lebih bersih

3. Penguatan Sinyal (Gain): Volume Control vs Equalizer Profesional

Booster Gain:

  • Fixed gain: Contoh: 50 dB selalu

  • Tidak adjust otomatis

  • Risiko: Over-amplification (oscillation)

  • Analog: Volume speaker fixed

Repeater Gain:

  • Automatic Gain Control (AGC): Adjust otomatis

  • Range: Contoh: 20-70 dB (adjustable)

  • Smart: Kurangi gain jika sinyal input kuat

  • Analog: Equalizer profesional dengan compressor

4. Kapasitas Pengguna: Jalan Kampung vs Jalan Tol

Booster Capacity:

  • Typical: 8-16 users simultan

  • Technology: Shared bandwidth

  • Problem: Semakin banyak user, semakin lambat masing-masing

  • Analog: Jalan kampung – semua berebut space

Repeater Capacity:

  • Typical: 32-64+ users simultan

  • Technology: Better traffic management

  • Feature: QoS (Quality of Service) prioritization

  • Analog: Jalan tol dengan multiple lanes

5. Frequency Handling: Radio AM vs Radio Digital

Booster Frequency:

  • Bands limited: 1-3 bands biasanya

  • Fixed frequency: Tidak bisa adjust

  • Interference: Rentan terhadap interferensi

  • Analog: Radio AM – sederhana, rentan noise

Repeater Frequency:

  • Multi-band: 4-6 bands common

  • Frequency agile: Bisa scan dan pilih frekuensi terbaik

  • Interference mitigation: Advanced algorithms

  • Analog: Radio digital dengan error correction

6. Kemampuan Isolation: Tembok Tipis vs Kamar Kedap Suara

Booster Isolation:

  • Isolation poor: 40-60 dB typical

  • Donor-service antenna leakage: High risk

  • Oscillation probability: High tanpa careful install

  • Analog: Tembok partisi kantor – bocor suara

Repeater Isolation:

  • Isolation excellent: 80-100+ dB

  • Advanced isolation techniques: Digital + analog

  • Oscillation prevention: Built-in protection

  • Analog: Studio rekaman – kedap suara

7. Harga & ROI: Motor Bebek vs Mobil Listrik

Booster Economics:

  • Harga: Rp 3-15 juta

  • Installation: Sederhana (bisa DIY)

  • Maintenance: Minimal

  • Lifetime: 2-4 tahun

  • ROI: Untuk kebutuhan sederhana, cepat

Repeater Economics:

  • Harga: Rp 15-50+ juta

  • Installation: Professional required

  • Maintenance: Regular (monitoring needed)

  • Lifetime: 5-8+ tahun

  • ROI: Untuk bisnis/kebutuhan kritis, worth it


Kapan Pilih Booster vs Repeater? Decision Matrix Praktis

Scenario Analysis: Pilih Berdasarkan Kondisi Nyata

Scenario 1: Rumah dengan Sinyal Lemah Tapi Ada

Kondisi:

  • Lokasi: Perumahan pinggir kota

  • Sinyal existing: -95 dBm (1-2 bar)

  • Area coverage: 150 m²

  • Users: 4-6 orang

  • Budget: Rp 5-10 juta

Analisis:

  • Masalah: Sinyal ada tapi lemah

  • Noise level: Medium

  • Interference: Low-medium

  • Kebutuhan: Amplification sederhana

Rekomendasi: BOOSTER berkualitas

  • Alasan: Harga lebih terjangkau

  • Expected result: Sinyal jadi -75 sampai -85 dBm

  • ROI: 8-14 bulan dari improved productivity

Scenario 2: Kantor di Gedung dengan Banyak Interference

Kondisi:

  • Lokasi: Gedung perkantoran lantai 8

  • Sinyal existing: Fluktuatif (-70 sampai -105 dBm)

  • Area: 500 m²

  • Users: 25-35 orang

  • Interference: Tinggi (dari perangkat kantor lain)

  • Budget: Rp 25-40 juta

Analisis:

  • Masalah utama: Interference, bukan signal weakness

  • Noise: High (dari WiFi, Bluetooth, dll)

  • Kebutuhan: Filtering + amplification

Rekomendasi: REPEATER kelas menengah

  • Alasan: Butuh filtering advance

  • Expected result: Sinyal stabil -75 dBm ±5 dB

  • ROI: 12-18 bulan dari reduced downtime

Scenario 3: Restoran di Basement Mall

Kondisi:

  • Lokasi: Basement B2 shopping mall

  • Sinyal existing: -110 dBm (almost dead)

  • Area: 300 m²

  • Users: Customers + staff (peak 50+ devices)

  • Problem: Digital payments failing

  • Budget: Rp 35-60 juta

Analisis:

  • Masalah: Almost no signal, high density

  • Kebutuhan: Powerful system dengan capacity tinggi

  • Tambahan: Mungkin butuh outdoor donor antenna

Rekomendasi: REPEATER professional grade

  • Alasan: Butuh menangkap sinyal weak + process

  • Possible need: External donor antenna di atap

  • ROI: 6-10 bulan dari increased sales (digital payments work)

Decision Flowchart Sederhana

Mulai → Ada sinyal? (≥ -95 dBm) → YA → Ada interference? → YA → REPEATER
                                      ↓                               ↓
                                      TIDAK                           BOOSTER
                                      ↓
Sinyal sangat lemah? (< -100 dBm) → YA → REPEATER dengan donor antenna
                                      ↓
                                      TIDAK → Jumlah user > 16? → YA → REPEATER
                                                      ↓
                                                      TIDAK → BOOSTER

Spesifikasi Teknis Detail: Membaca Spec Sheet dengan Benar

Parameter Kritis yang Harus Diperhatikan

1. Gain (Penguatan)

Booster typical:

  • Range: 20-50 dB

  • Fixed: Tidak adjust otomatis

  • Measurement: Often inflated in marketing

Repeater typical:

  • Range: 30-70 dB (adjustable)

  • AGC: Automatic adjustment based on input

  • Measurement: More accurate (lab tested)

Cara baca spec sheet:

CLAIM: "Gain 65 dB"
REALITY: 
• Jika Booster: Mungkin actual 45-50 dB
• Jika Repeater: Mungkin actual 60-65 dB
• Verifikasi: Cek sertifikat SDPPI untuk tested values

2. Noise Figure

Parameter paling penting yang sering diabaikan:

Apa itu Noise Figure (NF):

  • Ukuran seberapa banyak noise ditambahkan oleh sistem

  • Semakin rendah semakin baik

  • Diukur dalam dB

Perbandingan typical:

  • Booster murah: NF 8-12 dB

  • Booster bagus: NF 5-8 dB

  • Repeater basic: NF 3-5 dB

  • Repeater professional: NF 1.5-3 dB

Impact: Perbedaan 3 dB NF = 2x lebih banyak noise

3. Output Power

Regulasi Indonesia (SDPPI):

  • Indoor: Max 100 mW (20 dBm)

  • Outdoor: Max 2 W (33 dBm) dengan izin khusus

Red flag: Produk mengklaim >100 mW untuk indoor use = ilegal atau spec palsu.

4. Frequency Bands

Bands penting di Indonesia:

  • 4G LTE: 900 MHz (Band 8), 1800 MHz (Band 3), 2100 MHz (Band 1), 2300 MHz (Band 40)

  • 5G: 2300 MHz (n40), 3500 MHz (n78)

Booster limitation: Sering hanya support 1-2 bands
Repeater advantage: Bisa support 4-6 bands

5. Capacity (Max Users)

Cara hitung real capacity:

Kapasitas teoritis ≠ kapasitas praktis

Contoh: 
Klaim: "Support 32 users"
Realitas (booster): Mungkin hanya 8-12 stable
Realitas (repeater): Mungkin 24-28 stable

Studi Kasus Real: Implementasi yang Salah vs Benar

Case Study 1: Klinik di Bandung (Salah Pilih Booster)

Latar belakang:

  • Lokasi: Klinik 2 lantai di Bandung

  • Masalah: Sinyal hilang di ruang konsultasi lantai 2

  • Solusi dipilih: Booster “premium” Rp 18 juta

  • Hasil: Sinyal lebih buruk, bahkan hilang total di beberapa area

Root cause analysis:

  1. Masalah sebenarnya: Interference dari peralatan medis

  2. Booster: Amplify sinyal + noise

  3. Result: SINR (Signal to Interference Noise Ratio) turun

  4. HP response: Drop connection karena SINR terlalu rendah

Solusi benar: Repeater dengan filtering advance

  • Investasi: Rp 28 juta

  • Hasil: Sinyal stabil, semua ruangan covered

  • Lesson: Interference problem butuh filtering, bukan amplification

Case Study 2: Co-working Space di Jakarta (Salah Pilih Repeater)

Latar belakang:

  • Lokasi: Co-working space 200 m²

  • Masalah: Sinyal fluktuatif

  • Solusi dipilih: Repeater enterprise Rp 42 juta

  • Hasil: Overkill, ROI terlalu panjang

Root cause analysis:

  1. Masalah sebenarnya: Sinyal lemah tapi clean

  2. Repeater: Over-engineered untuk kebutuhan

  3. Financial: ROI 28 bulan (terlalu lama)

  4. Maintenance: Complex, costly

Solusi tepat: Booster professional grade

  • Investasi: Rp 12 juta

  • Hasil: Sinyal cukup baik untuk kebutuhan

  • ROI: 6 bulan

  • Lesson: Jangan over-engineer untuk kebutuhan sederhana

Case Study 3: Pabrik di Tangerang (Pilihan Tepat)

Latar belakang:

  • Lokasi: Pabrik dengan banyak mesin

  • Masalah: Sinyal hilang di area produksi

  • Analysis: Site survey professional

  • Findings: High interference + weak signal

Solusi dipilih: Hybrid system

  • Outdoor: Directional antenna untuk tangkap sinyal clean

  • Indoor: Repeater dengan filtering khusus

  • Total investasi: Rp 38 juta

Hasil:

  • Coverage: 95% area

  • Stability: 99% uptime

  • ROI: 10 bulan (dari productivity gain)

Lesson: Professional assessment worth the investment


Harga Realistis 2025: Apa yang Anda Bayar?

Range Harga Booster (Bersertifikat Legal)

Kategori Konsumer:

  • Basic (50-100 m²): Rp 3-6 juta

  • Medium (100-200 m²): Rp 6-12 juta

  • Advanced (200-300 m²): Rp 12-20 juta

Spesifikasi typical untuk Rp 8 juta:

  • Gain: 40-50 dB

  • Noise Figure: 5-7 dB

  • Bands: 2-3 bands

  • Capacity: 8-12 users

  • Warranty: 1-2 tahun

Range Harga Repeater (Bersertifikat Legal)

Kategori Prosumer:

  • Basic (200-400 m²): Rp 15-25 juta

  • Medium (400-800 m²): Rp 25-40 juta

  • Advanced (800-1500 m²): Rp 40-70 juta

Spesifikasi typical untuk Rp 30 juta:

  • Gain: 50-65 dB (with AGC)

  • Noise Figure: 3-4 dB

  • Bands: 4-5 bands

  • Capacity: 24-32 users

  • Features: Remote monitoring, advanced filtering

  • Warranty: 2-3 tahun

Breakdown Biaya (Beyond Harga Produk)

Biaya tersembunyi yang sering dilupakan:

Untuk Booster:

  • Installation: Rp 1-3 juta (jika professional)

  • Cabling: Rp 500k-2 juta

  • Maintenance/year: Rp 500k-1 juta

  • Total 3 tahun: Harga + 40-60%

Untuk Repeater:

  • Site survey: Rp 2-5 juta

  • Installation: Rp 3-8 juta

  • Cabling & accessories: Rp 2-6 juta

  • Maintenance/year: Rp 1,5-3 juta

  • Total 3 tahun: Harga + 60-90%

Kesimpulan finansial: Repeater lebih mahal di awal, tapi mungkin lebih murah dalam 5+ tahun untuk kasus tertentu.


Regulasi & Sertifikasi: Legalitas Keduanya

Persyaratan SDPPI untuk Booster & Repeater

Kesamaan:

  1. Wajib sertifikat SDPPI

  2. Testing di lab terakreditasi

  3. Label harus ada di produk

  4. Manual book Bahasa Indonesia

Perbedaan persyaratan teknis:

ParameterBoosterRepeater
Frequency Stability±10 ppm±5 ppm
Spurious Emission-36 dBc-40 dBc
Occupied BandwidthSesuai alokasiLebih ketat
Testing Duration5-10 hari10-20 hari
Certification CostRp 8-15 jutaRp 15-30 juta

Cara Verifikasi Legalitas

Step 1: Cek fisik

  • Stiker SDPPI dengan hologram

  • Nomor sertifikat format benar

  • Manual book resmi

Step 2: Verifikasi online

  • Buka public.sdppi.id

  • Pilih “Verifikasi Sertifikat”

  • Input nomor sertifikat

  • Pastikan data match

Step 3: Cek perusahaan

  • NPWP distributor

  • SIUP/TDP aktif

  • Alamat fisik valid


Panduan Membeli: Checklist Akhir

Checklist Booster (Jika ini pilihan tepat)

Technical:

  • Gain sesuai kebutuhan (40-50 dB untuk kebanyakan kasus)

  • Noise Figure ≤ 7 dB

  • Support bands operator Anda

  • Output power ≤ 100 mW (indoor)

  • Sertifikat SDPPI valid

Commercial:

  • Harga realistis (Rp 3-20 juta tergantung spesifikasi)

  • Garansi minimal 1 tahun

  • Service center tersedia

  • Sparepart tersedia

Installation:

  • Termasuk instalasi atau panduan jelas

  • Kabel dan aksesori lengkap

  • Support teknis tersedia

Checklist Repeater (Jika ini pilihan tepat)

Technical:

  • DSP capability (bukan analog sederhana)

  • AGC (Automatic Gain Control)

  • Advanced filtering (multi-stage)

  • Isolation ≥ 80 dB

  • Remote monitoring capability (untuk profesional)

Commercial:

  • Harga sesuai dengan features (Rp 15-70+ juta)

  • Professional installation included/recommended

  • Maintenance contract available

  • Training untuk staff (jika untuk bisnis)

Professional Services:

  • Site survey sebelum beli

  • System design documentation

  • Post-installation optimization

  • Regular maintenance schedule

Red Flags untuk Dihindari

Untuk semua produk:

  • ❌ Tidak ada sertifikat SDPPI

  • ❌ Harga terlalu murah untuk spesifikasi

  • ❌ Klaim tidak realistis (“dari 0 ke full”)

  • ❌ Tidak ada support teknis

  • ❌ Perusahaan tidak jelas

Khusus Booster:

  • ❌ Klaim support “semua frekuensi”

  • ❌ Output power > 100 mW untuk indoor

  • ❌ Tidak ada informasi noise figure

Khusus Repeater:

  • ❌ Tidak ada DSP capability

  • ❌ Fixed gain (tidak adjustable)

  • ❌ Tidak ada isolation specification


FAQ Perbedaan Repeater & Booster

1. Mana yang lebih bagus, booster atau repeater?

Jawab: Tidak ada yang “lebih bagus” secara universal. Bergantung pada kebutuhan:

Pilih BOOSTER jika:

  • Sinyal sudah ada tapi lemah

  • Area kecil (≤200 m²)

  • Pengguna sedikit (≤12 orang)

  • Budget terbatas

  • Tidak banyak interference

Pilih REPEATER jika:

  • Ada masalah interference

  • Area medium-large (200+ m²)

  • Banyak pengguna (16+ orang)

  • Butuh stability tinggi

  • Untuk aplikasi bisnis/kritis

Analoginya: Tidak ada yang “lebih bagus” antara sepeda dan mobil. Tergantung kebutuhan.

2. Bisakah booster di-upgrade jadi repeater?

Jawab: TIDAK. Booster dan repeater adalah arsitektur berbeda:

Booster arsitektur:

Antenna → Amplifier → Antenna
(sederhana, analog)

Repeater arsitektur:

Antenna → Filter → LNA → ADC → DSP → DAC → PA → Filter → Antenna
(kompleks, digital)

Tidak mungkin upgrade dari analog ke digital hanya dengan software. Harus ganti hardware sepenuhnya.

3. Berapa lama masa pakai booster vs repeater?

Jawab: Berdasarkan data MTBF (Mean Time Between Failure):

Booster typical:

  • Consumer grade: 15.000-25.000 jam (2-3 tahun)

  • Professional grade: 25.000-40.000 jam (3-5 tahun)

Repeater typical:

  • Entry level: 40.000-60.000 jam (5-7 tahun)

  • Professional: 60.000-100.000+ jam (7-12 tahun)

Faktor yang mempengaruhi:

  • Quality of components

  • Operating temperature

  • Maintenance regularity

  • Electrical stability

4. Mana yang lebih hemat listrik?

Jawab: Tergantung spesifikasi, tapi umumnya:

Power consumption typical:

  • Booster: 10-30 Watt

  • Repeater: 20-60 Watt

Tapi efisiensi berbeda:

  • Booster efficiency: 40-60% (banyak energi jadi panas)

  • Repeater efficiency: 60-80% (lebih efisien)

Perhitungan biaya listrik/bulan (asumsi Rp 1.500/kWh):

  • Booster 20W: 20W × 24 jam × 30 hari ÷ 1000 × Rp 1.500 = Rp 21.600/bulan

  • Repeater 40W: 40W × 24 × 30 ÷ 1000 × 1.500 = Rp 43.200/bulan

Perbedaan: Rp 21.600/bulan atau Rp 259.200/tahun.

5. Bagaimana cara tahu pasti mana yang saya butuh?

Jawab: Ikuti proses decision tree ini:

Step 1: Ukur kondisi existing

  • Gunakan app seperti “Network Cell Info”

  • Catat: RSSI, RSRP, SINR

  • Lakukan di berbagai titik dan waktu

Step 2: Analisis masalah utama

  • Jika SINR rendah (<10 dB): Masalah interference → Repeater

  • Jika RSSI rendah (> -95 dBm) tapi SINR baik (>15 dB): Booster cukup

  • Jika keduanya rendah: Mungkin butuh repeater + donor antenna baik

Step 3: Konsultasi profesional jika

  • Area > 300 m²

  • Pengguna > 16 orang

  • Untuk bisnis/kebutuhan kritis

  • Budget > Rp 20 juta

Biaya konsultasi (Rp 500k-2 juta) lebih murah daripada salah beli (Rp 5-20 juta hangus).


Kesimpulan: Knowledge is Power, Right Tool for Right Job

Memahami perbedaan antara booster dan repeater bukanlah ilmu rocket science, tapi pengetahuan praktis yang bisa menghemat jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Perbedaan fundamental ini sering sengaja dikaburkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk keuntungan mereka.

3 Prinsip final:

  1. Booster untuk amplifikasi sederhanarepeater untuk pemrosesan kompleks.

  2. Harga tidak bohong – repeater lebih mahal karena lebih kompleks.

  3. Konsultasi sebelum beli menghemat uang, waktu, dan frustrasi.

Pertanyaan refleksi terakhir: Apakah Anda lebih memilih menghabiskan Rp 2-5 juta untuk professional assessment yang memberi kepastian, atau berjudi Rp 8-30 juta dengan membeli produk yang mungkin salah?

Di dunia teknologi, using the right tool for the right job adalah perbedaan antara solusi dan masalah baru. Sekarang Anda punya pengetahuan untuk membuat keputusan tepat.

 

Disclaimer: Artikel berdasarkan pengalaman teknis dan data industri. Untuk kebutuhan spesifik, konsultasi dengan profesional disarankan. Update terakhir: Juli 2025.

Baca juga : Bahaya Alat Ilegal Penguat Sinyal HP Risiko Hukum & Kesehatan


Konsultasi Gratis Pemasangan & Pemeliharaan Penguat Sinyal Hp

Bagi Anda yang tertarik untuk menggunakan jasa pasang penguat sinyal hp dari Repeater Sinyal Hp atau mendapatkan layanan pemeliharaan, maka jangan ragu untuk menghubungi kontak layanan kami melalui:

Email : irana@picotel.co.id

WA/Telp. : 0811-1134-690

Melalui kontak layanan tersebut, Anda dapat melakukan konsultasi secara GRATIS dengan tim teknisi kami. Sehingga, pemasangan penguat sinyal hp dapat sesuai dengan permintaan dan spesifikasi yang Anda inginkan.

Selain itu, kami juga memberikan layanan GARANSI selama 1 tahun dan berlaku setelah penguat sinyal hp terpasang, kecuali saat kondisi force majeure. Kami juga menjamin pengerjaan pemasangan penguat sinyal hp akan berlangsung dengan akurat dan tepat waktu sesuai kesepakatan.

 

repeater sinyal hp
repeater sinyal hp

Leave a Reply