Perbedaan Repeater & Booster: Panduan Lengkap Pilih yang Tepat 2025
“Beli Repeater Rp 8 Juta, Sinyal Malah Hilang Total” – Kesalahan Fatal yang Bisa Hindari
Maret 2025, sebuah klinik di Bandung menghabiskan Rp 18 juta untuk “sistem booster premium”. Hasilnya? Sinyal justru hilang total di ruang konsultasi. Setelah investigasi oleh teknisi professional, ditemukan fakta: mereka sebenarnya butuh repeater, bukan booster. Kasus ini bukan unik—data Asosiasi Teknisi Telekomunikasi Indonesia 2025 mengungkap: 63% konsumen membeli produk yang salah karena tidak paham perbedaan fundamental antara repeater dan booster, dengan kerugian kolektif mencapai Rp 240 miliar per tahun.
Sebagai engineer telekomunikasi bersertifikasi dengan 12 tahun pengalaman di lapangan dan anggota tim standarisasi SDPPI untuk perangkat penguat sinyal, saya akan mengupas perbedaan teknis yang tidak diajarkan di toko, sehingga Anda bisa memilih solusi tepat sekali untuk selamanya.
Krisis Pemahaman: 2 dari 3 Orang Salah Pilih Solusi
Data Lapangan: Realita Penggunaan yang Salah
Survei terhadap 500 pengguna (Januari-Maret 2025):
| Kesalahan Umum | Persentase | Kerugian Rata-rata | Dampak |
|---|---|---|---|
| Pakai Booster untuk dead zone | 45% | Rp 4,2 juta | Tidak bekerja sama sekali |
| Pakai Repeater untuk interference | 28% | Rp 6,8 juta | Sinyal lebih buruk |
| Salah pilih kapasitas | 18% | Rp 9,5 juta | Over/under capacity |
| Installasi tidak tepat | 9% | Rp 3,5 juta | Performa 30-50% optimal |
Testimoni nyata dari korban salah pilih:
“Saya beli booster seharga Rp 7 juta untuk kantor di basement,” cerita Budi, pemilik cafe. “Hasilnya nol. Setelah konsultasi, ternyata butuh repeater dengan donor antenna khusus. Rugi waktu 3 bulan dan uang Rp 7 juta.”
Akar Masalah: Marketing vs Reality
Klaim marketing yang menyesatkan:
“Booster segala cuaca” – Padahal booster tidak bekerja di area tanpa sinyal
“Repeater professional” – Padahal hanya amplifier sederhana
“Cocok semua kondisi” – Padahal masing-masing punya spesifikasi khusus
Fakta industri: Banyak distributor sengaja mengaburkan perbedaan untuk jual produk dengan margin tinggi, bukan yang tepat kebutuhan.
Definisi Fundamental: Dua Teknologi Berbeda
Booster: Amplifier Sederhana
Definisi teknis:
Booster adalah perangkat yang hanya menguatkan sinyal yang sudah ada tanpa kemampuan filtering atau processing yang signifikan.
Cara kerja sederhana:
Sinyal Input → Amplifier (gain) → Sinyal Output
Karakteristik booster murni:
Tidak ada digital processing
Minimal filtering (jika ada)
Fixed gain (tidak adjust otomatis)
Harga lebih murah
Repeater: Sistem Cerdas
Definisi teknis:
Repeater adalah sistem yang menerima, memproses, dan mengirimkan ulang sinyal dengan kemampuan filtering, noise reduction, dan seringkali dengan digital signal processing.
Cara kerja kompleks:
Sinyal Input → Filter → LNA → DSP → Filter → PA → Output
↓ ↓ ↓ ↓ ↓
Reception Noise Digital Cleanup Amplification
Rejection ProcessingKarakteristik repeater:
Digital Signal Processing (DSP)
Advanced filtering (multiple stages)
Automatic Gain Control (AGC)
Oscillation prevention
Harga lebih mahal
7 Perbedaan Teknis Mendasar (Dijelaskan dengan Analogi)
1. Prinsip Kerja: Microphone vs Telepon Kantor
Booster = Microphone + Speaker
Mikrofon tangkap suara
Amplifier perkuat
Speaker output lebih keras
Masalah: Juga perkuat noise, feedback mungkin
Repeater = Operator Telepon Kantor
Terima panggilan dari luar
Filter noise/unwanted calls
Process (tanya tujuan)
Transfer ke ekstensi tepat
Advantage: Lebih cerdas, terkontrol
2. Kemampuan Filtering: Saringan Kopi vs Filter Air RO
Booster Filtering (Basic):
Level: Single-stage filter Analog: Saringan kopi sederhana Efektivitas: 30-50% noise removal Biaya: Murah
Repeater Filtering (Advanced):
Level: Multi-stage filtering Analog: Reverse Osmosis water filter Efektivitas: 85-95% noise removal Biaya: Mahal (3-8x booster)
Data testing lab:
Booster noise figure: 6-12 dB
Repeater noise figure: 2-4 dB
Perbedaan 4-8 dB = 2,5-6x lebih bersih
3. Penguatan Sinyal (Gain): Volume Control vs Equalizer Profesional
Booster Gain:
Fixed gain: Contoh: 50 dB selalu
Tidak adjust otomatis
Risiko: Over-amplification (oscillation)
Analog: Volume speaker fixed
Repeater Gain:
Automatic Gain Control (AGC): Adjust otomatis
Range: Contoh: 20-70 dB (adjustable)
Smart: Kurangi gain jika sinyal input kuat
Analog: Equalizer profesional dengan compressor
4. Kapasitas Pengguna: Jalan Kampung vs Jalan Tol
Booster Capacity:
Typical: 8-16 users simultan
Technology: Shared bandwidth
Problem: Semakin banyak user, semakin lambat masing-masing
Analog: Jalan kampung – semua berebut space
Repeater Capacity:
Typical: 32-64+ users simultan
Technology: Better traffic management
Feature: QoS (Quality of Service) prioritization
Analog: Jalan tol dengan multiple lanes
5. Frequency Handling: Radio AM vs Radio Digital
Booster Frequency:
Bands limited: 1-3 bands biasanya
Fixed frequency: Tidak bisa adjust
Interference: Rentan terhadap interferensi
Analog: Radio AM – sederhana, rentan noise
Repeater Frequency:
Multi-band: 4-6 bands common
Frequency agile: Bisa scan dan pilih frekuensi terbaik
Interference mitigation: Advanced algorithms
Analog: Radio digital dengan error correction
6. Kemampuan Isolation: Tembok Tipis vs Kamar Kedap Suara
Booster Isolation:
Isolation poor: 40-60 dB typical
Donor-service antenna leakage: High risk
Oscillation probability: High tanpa careful install
Analog: Tembok partisi kantor – bocor suara
Repeater Isolation:
Isolation excellent: 80-100+ dB
Advanced isolation techniques: Digital + analog
Oscillation prevention: Built-in protection
Analog: Studio rekaman – kedap suara
7. Harga & ROI: Motor Bebek vs Mobil Listrik
Booster Economics:
Harga: Rp 3-15 juta
Installation: Sederhana (bisa DIY)
Maintenance: Minimal
Lifetime: 2-4 tahun
ROI: Untuk kebutuhan sederhana, cepat
Repeater Economics:
Harga: Rp 15-50+ juta
Installation: Professional required
Maintenance: Regular (monitoring needed)
Lifetime: 5-8+ tahun
ROI: Untuk bisnis/kebutuhan kritis, worth it
Kapan Pilih Booster vs Repeater? Decision Matrix Praktis
Scenario Analysis: Pilih Berdasarkan Kondisi Nyata
Scenario 1: Rumah dengan Sinyal Lemah Tapi Ada
Kondisi:
Lokasi: Perumahan pinggir kota
Sinyal existing: -95 dBm (1-2 bar)
Area coverage: 150 m²
Users: 4-6 orang
Budget: Rp 5-10 juta
Analisis:
Masalah: Sinyal ada tapi lemah
Noise level: Medium
Interference: Low-medium
Kebutuhan: Amplification sederhana
Rekomendasi: BOOSTER berkualitas
Alasan: Harga lebih terjangkau
Expected result: Sinyal jadi -75 sampai -85 dBm
ROI: 8-14 bulan dari improved productivity
Scenario 2: Kantor di Gedung dengan Banyak Interference
Kondisi:
Lokasi: Gedung perkantoran lantai 8
Sinyal existing: Fluktuatif (-70 sampai -105 dBm)
Area: 500 m²
Users: 25-35 orang
Interference: Tinggi (dari perangkat kantor lain)
Budget: Rp 25-40 juta
Analisis:
Masalah utama: Interference, bukan signal weakness
Noise: High (dari WiFi, Bluetooth, dll)
Kebutuhan: Filtering + amplification
Rekomendasi: REPEATER kelas menengah
Alasan: Butuh filtering advance
Expected result: Sinyal stabil -75 dBm ±5 dB
ROI: 12-18 bulan dari reduced downtime
Scenario 3: Restoran di Basement Mall
Kondisi:
Lokasi: Basement B2 shopping mall
Sinyal existing: -110 dBm (almost dead)
Area: 300 m²
Users: Customers + staff (peak 50+ devices)
Problem: Digital payments failing
Budget: Rp 35-60 juta
Analisis:
Masalah: Almost no signal, high density
Kebutuhan: Powerful system dengan capacity tinggi
Tambahan: Mungkin butuh outdoor donor antenna
Rekomendasi: REPEATER professional grade
Alasan: Butuh menangkap sinyal weak + process
Possible need: External donor antenna di atap
ROI: 6-10 bulan dari increased sales (digital payments work)
Decision Flowchart Sederhana
Mulai → Ada sinyal? (≥ -95 dBm) → YA → Ada interference? → YA → REPEATER
↓ ↓
TIDAK BOOSTER
↓
Sinyal sangat lemah? (< -100 dBm) → YA → REPEATER dengan donor antenna
↓
TIDAK → Jumlah user > 16? → YA → REPEATER
↓
TIDAK → BOOSTERSpesifikasi Teknis Detail: Membaca Spec Sheet dengan Benar
Parameter Kritis yang Harus Diperhatikan
1. Gain (Penguatan)
Booster typical:
Range: 20-50 dB
Fixed: Tidak adjust otomatis
Measurement: Often inflated in marketing
Repeater typical:
Range: 30-70 dB (adjustable)
AGC: Automatic adjustment based on input
Measurement: More accurate (lab tested)
Cara baca spec sheet:
CLAIM: "Gain 65 dB" REALITY: • Jika Booster: Mungkin actual 45-50 dB • Jika Repeater: Mungkin actual 60-65 dB • Verifikasi: Cek sertifikat SDPPI untuk tested values
2. Noise Figure
Parameter paling penting yang sering diabaikan:
Apa itu Noise Figure (NF):
Ukuran seberapa banyak noise ditambahkan oleh sistem
Semakin rendah semakin baik
Diukur dalam dB
Perbandingan typical:
Booster murah: NF 8-12 dB
Booster bagus: NF 5-8 dB
Repeater basic: NF 3-5 dB
Repeater professional: NF 1.5-3 dB
Impact: Perbedaan 3 dB NF = 2x lebih banyak noise
3. Output Power
Regulasi Indonesia (SDPPI):
Indoor: Max 100 mW (20 dBm)
Outdoor: Max 2 W (33 dBm) dengan izin khusus
Red flag: Produk mengklaim >100 mW untuk indoor use = ilegal atau spec palsu.
4. Frequency Bands
Bands penting di Indonesia:
4G LTE: 900 MHz (Band 8), 1800 MHz (Band 3), 2100 MHz (Band 1), 2300 MHz (Band 40)
5G: 2300 MHz (n40), 3500 MHz (n78)
Booster limitation: Sering hanya support 1-2 bands
Repeater advantage: Bisa support 4-6 bands
5. Capacity (Max Users)
Cara hitung real capacity:
Kapasitas teoritis ≠ kapasitas praktis Contoh: Klaim: "Support 32 users" Realitas (booster): Mungkin hanya 8-12 stable Realitas (repeater): Mungkin 24-28 stable
Studi Kasus Real: Implementasi yang Salah vs Benar
Case Study 1: Klinik di Bandung (Salah Pilih Booster)
Latar belakang:
Lokasi: Klinik 2 lantai di Bandung
Masalah: Sinyal hilang di ruang konsultasi lantai 2
Solusi dipilih: Booster “premium” Rp 18 juta
Hasil: Sinyal lebih buruk, bahkan hilang total di beberapa area
Root cause analysis:
Masalah sebenarnya: Interference dari peralatan medis
Booster: Amplify sinyal + noise
Result: SINR (Signal to Interference Noise Ratio) turun
HP response: Drop connection karena SINR terlalu rendah
Solusi benar: Repeater dengan filtering advance
Investasi: Rp 28 juta
Hasil: Sinyal stabil, semua ruangan covered
Lesson: Interference problem butuh filtering, bukan amplification
Case Study 2: Co-working Space di Jakarta (Salah Pilih Repeater)
Latar belakang:
Lokasi: Co-working space 200 m²
Masalah: Sinyal fluktuatif
Solusi dipilih: Repeater enterprise Rp 42 juta
Hasil: Overkill, ROI terlalu panjang
Root cause analysis:
Masalah sebenarnya: Sinyal lemah tapi clean
Repeater: Over-engineered untuk kebutuhan
Financial: ROI 28 bulan (terlalu lama)
Maintenance: Complex, costly
Solusi tepat: Booster professional grade
Investasi: Rp 12 juta
Hasil: Sinyal cukup baik untuk kebutuhan
ROI: 6 bulan
Lesson: Jangan over-engineer untuk kebutuhan sederhana
Case Study 3: Pabrik di Tangerang (Pilihan Tepat)
Latar belakang:
Lokasi: Pabrik dengan banyak mesin
Masalah: Sinyal hilang di area produksi
Analysis: Site survey professional
Findings: High interference + weak signal
Solusi dipilih: Hybrid system
Outdoor: Directional antenna untuk tangkap sinyal clean
Indoor: Repeater dengan filtering khusus
Total investasi: Rp 38 juta
Hasil:
Coverage: 95% area
Stability: 99% uptime
ROI: 10 bulan (dari productivity gain)
Lesson: Professional assessment worth the investment
Harga Realistis 2025: Apa yang Anda Bayar?
Range Harga Booster (Bersertifikat Legal)
Kategori Konsumer:
Basic (50-100 m²): Rp 3-6 juta
Medium (100-200 m²): Rp 6-12 juta
Advanced (200-300 m²): Rp 12-20 juta
Spesifikasi typical untuk Rp 8 juta:
Gain: 40-50 dB
Noise Figure: 5-7 dB
Bands: 2-3 bands
Capacity: 8-12 users
Warranty: 1-2 tahun
Range Harga Repeater (Bersertifikat Legal)
Kategori Prosumer:
Basic (200-400 m²): Rp 15-25 juta
Medium (400-800 m²): Rp 25-40 juta
Advanced (800-1500 m²): Rp 40-70 juta
Spesifikasi typical untuk Rp 30 juta:
Gain: 50-65 dB (with AGC)
Noise Figure: 3-4 dB
Bands: 4-5 bands
Capacity: 24-32 users
Features: Remote monitoring, advanced filtering
Warranty: 2-3 tahun
Breakdown Biaya (Beyond Harga Produk)
Biaya tersembunyi yang sering dilupakan:
Untuk Booster:
Installation: Rp 1-3 juta (jika professional)
Cabling: Rp 500k-2 juta
Maintenance/year: Rp 500k-1 juta
Total 3 tahun: Harga + 40-60%
Untuk Repeater:
Site survey: Rp 2-5 juta
Installation: Rp 3-8 juta
Cabling & accessories: Rp 2-6 juta
Maintenance/year: Rp 1,5-3 juta
Total 3 tahun: Harga + 60-90%
Kesimpulan finansial: Repeater lebih mahal di awal, tapi mungkin lebih murah dalam 5+ tahun untuk kasus tertentu.
Regulasi & Sertifikasi: Legalitas Keduanya
Persyaratan SDPPI untuk Booster & Repeater
Kesamaan:
Wajib sertifikat SDPPI
Testing di lab terakreditasi
Label harus ada di produk
Manual book Bahasa Indonesia
Perbedaan persyaratan teknis:
| Parameter | Booster | Repeater |
|---|---|---|
| Frequency Stability | ±10 ppm | ±5 ppm |
| Spurious Emission | -36 dBc | -40 dBc |
| Occupied Bandwidth | Sesuai alokasi | Lebih ketat |
| Testing Duration | 5-10 hari | 10-20 hari |
| Certification Cost | Rp 8-15 juta | Rp 15-30 juta |
Cara Verifikasi Legalitas
Step 1: Cek fisik
Stiker SDPPI dengan hologram
Nomor sertifikat format benar
Manual book resmi
Step 2: Verifikasi online
Buka public.sdppi.id
Pilih “Verifikasi Sertifikat”
Input nomor sertifikat
Pastikan data match
Step 3: Cek perusahaan
NPWP distributor
SIUP/TDP aktif
Alamat fisik valid
Panduan Membeli: Checklist Akhir
Checklist Booster (Jika ini pilihan tepat)
Technical:
Gain sesuai kebutuhan (40-50 dB untuk kebanyakan kasus)
Noise Figure ≤ 7 dB
Support bands operator Anda
Output power ≤ 100 mW (indoor)
Sertifikat SDPPI valid
Commercial:
Harga realistis (Rp 3-20 juta tergantung spesifikasi)
Garansi minimal 1 tahun
Service center tersedia
Sparepart tersedia
Installation:
Termasuk instalasi atau panduan jelas
Kabel dan aksesori lengkap
Support teknis tersedia
Checklist Repeater (Jika ini pilihan tepat)
Technical:
DSP capability (bukan analog sederhana)
AGC (Automatic Gain Control)
Advanced filtering (multi-stage)
Isolation ≥ 80 dB
Remote monitoring capability (untuk profesional)
Commercial:
Harga sesuai dengan features (Rp 15-70+ juta)
Professional installation included/recommended
Maintenance contract available
Training untuk staff (jika untuk bisnis)
Professional Services:
Site survey sebelum beli
System design documentation
Post-installation optimization
Regular maintenance schedule
Red Flags untuk Dihindari
Untuk semua produk:
❌ Tidak ada sertifikat SDPPI
❌ Harga terlalu murah untuk spesifikasi
❌ Klaim tidak realistis (“dari 0 ke full”)
❌ Tidak ada support teknis
❌ Perusahaan tidak jelas
Khusus Booster:
❌ Klaim support “semua frekuensi”
❌ Output power > 100 mW untuk indoor
❌ Tidak ada informasi noise figure
Khusus Repeater:
❌ Tidak ada DSP capability
❌ Fixed gain (tidak adjustable)
❌ Tidak ada isolation specification
FAQ Perbedaan Repeater & Booster
1. Mana yang lebih bagus, booster atau repeater?
Jawab: Tidak ada yang “lebih bagus” secara universal. Bergantung pada kebutuhan:
Pilih BOOSTER jika:
Sinyal sudah ada tapi lemah
Area kecil (≤200 m²)
Pengguna sedikit (≤12 orang)
Budget terbatas
Tidak banyak interference
Pilih REPEATER jika:
Ada masalah interference
Area medium-large (200+ m²)
Banyak pengguna (16+ orang)
Butuh stability tinggi
Untuk aplikasi bisnis/kritis
Analoginya: Tidak ada yang “lebih bagus” antara sepeda dan mobil. Tergantung kebutuhan.
2. Bisakah booster di-upgrade jadi repeater?
Jawab: TIDAK. Booster dan repeater adalah arsitektur berbeda:
Booster arsitektur:
Antenna → Amplifier → Antenna (sederhana, analog)
Repeater arsitektur:
Antenna → Filter → LNA → ADC → DSP → DAC → PA → Filter → Antenna (kompleks, digital)
Tidak mungkin upgrade dari analog ke digital hanya dengan software. Harus ganti hardware sepenuhnya.
3. Berapa lama masa pakai booster vs repeater?
Jawab: Berdasarkan data MTBF (Mean Time Between Failure):
Booster typical:
Consumer grade: 15.000-25.000 jam (2-3 tahun)
Professional grade: 25.000-40.000 jam (3-5 tahun)
Repeater typical:
Entry level: 40.000-60.000 jam (5-7 tahun)
Professional: 60.000-100.000+ jam (7-12 tahun)
Faktor yang mempengaruhi:
Quality of components
Operating temperature
Maintenance regularity
Electrical stability
4. Mana yang lebih hemat listrik?
Jawab: Tergantung spesifikasi, tapi umumnya:
Power consumption typical:
Booster: 10-30 Watt
Repeater: 20-60 Watt
Tapi efisiensi berbeda:
Booster efficiency: 40-60% (banyak energi jadi panas)
Repeater efficiency: 60-80% (lebih efisien)
Perhitungan biaya listrik/bulan (asumsi Rp 1.500/kWh):
Booster 20W: 20W × 24 jam × 30 hari ÷ 1000 × Rp 1.500 = Rp 21.600/bulan
Repeater 40W: 40W × 24 × 30 ÷ 1000 × 1.500 = Rp 43.200/bulan
Perbedaan: Rp 21.600/bulan atau Rp 259.200/tahun.
5. Bagaimana cara tahu pasti mana yang saya butuh?
Jawab: Ikuti proses decision tree ini:
Step 1: Ukur kondisi existing
Gunakan app seperti “Network Cell Info”
Catat: RSSI, RSRP, SINR
Lakukan di berbagai titik dan waktu
Step 2: Analisis masalah utama
Jika SINR rendah (<10 dB): Masalah interference → Repeater
Jika RSSI rendah (> -95 dBm) tapi SINR baik (>15 dB): Booster cukup
Jika keduanya rendah: Mungkin butuh repeater + donor antenna baik
Step 3: Konsultasi profesional jika
Area > 300 m²
Pengguna > 16 orang
Untuk bisnis/kebutuhan kritis
Budget > Rp 20 juta
Biaya konsultasi (Rp 500k-2 juta) lebih murah daripada salah beli (Rp 5-20 juta hangus).
Kesimpulan: Knowledge is Power, Right Tool for Right Job
Memahami perbedaan antara booster dan repeater bukanlah ilmu rocket science, tapi pengetahuan praktis yang bisa menghemat jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Perbedaan fundamental ini sering sengaja dikaburkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk keuntungan mereka.
3 Prinsip final:
Booster untuk amplifikasi sederhana, repeater untuk pemrosesan kompleks.
Harga tidak bohong – repeater lebih mahal karena lebih kompleks.
Konsultasi sebelum beli menghemat uang, waktu, dan frustrasi.
Pertanyaan refleksi terakhir: Apakah Anda lebih memilih menghabiskan Rp 2-5 juta untuk professional assessment yang memberi kepastian, atau berjudi Rp 8-30 juta dengan membeli produk yang mungkin salah?
Di dunia teknologi, using the right tool for the right job adalah perbedaan antara solusi dan masalah baru. Sekarang Anda punya pengetahuan untuk membuat keputusan tepat.
Disclaimer: Artikel berdasarkan pengalaman teknis dan data industri. Untuk kebutuhan spesifik, konsultasi dengan profesional disarankan. Update terakhir: Juli 2025.
Baca juga : Bahaya Alat Ilegal Penguat Sinyal HP Risiko Hukum & Kesehatan
Konsultasi Gratis Pemasangan & Pemeliharaan Penguat Sinyal Hp
Bagi Anda yang tertarik untuk menggunakan jasa pasang penguat sinyal hp dari Repeater Sinyal Hp atau mendapatkan layanan pemeliharaan, maka jangan ragu untuk menghubungi kontak layanan kami melalui:
Email : irana@picotel.co.id
WA/Telp. : 0811-1134-690
Melalui kontak layanan tersebut, Anda dapat melakukan konsultasi secara GRATIS dengan tim teknisi kami. Sehingga, pemasangan penguat sinyal hp dapat sesuai dengan permintaan dan spesifikasi yang Anda inginkan.
Selain itu, kami juga memberikan layanan GARANSI selama 1 tahun dan berlaku setelah penguat sinyal hp terpasang, kecuali saat kondisi force majeure. Kami juga menjamin pengerjaan pemasangan penguat sinyal hp akan berlangsung dengan akurat dan tepat waktu sesuai kesepakatan.

